MENJADI MANUSIA FRANSISKUS - ORDO FRANSISKAN SEKULAR

OFSREGKAL

OFS - Ordo Fransiskan Sekuler - Ordo Ketiga Fransiskan

ORDO FRANSISKAN SEKULAR REGIO KALIMANTAN

download+%25284%2529

Home Top Ad

Post Top Ad

Tuesday, October 25, 2016

download%2B%25284%2529

MENJADI MANUSIA FRANSISKUS

Responsive Ads Here
Berdasarkan buku: Introduksi Spiritualitas Fransiskan

14656336_1593252120981712_4032328287296683849_n
Santo Fransiskus dari Assisi merupakan Santo besar yang pernah lahir di zamannya. Bagaimana tidak? Santo ini melakukan perubahan besar pada cara pandang gereja di pada masa itu. Gereja Katolik lebih pro kepada kaum Raja, Kaisarx bangsawan dan para orang kaya. Karena gereja yang terlalu identik dengan kekayaan menggerakkan hati si Francesco muda untuk melihat orang-orang kecil. Dibesarkan dari keluarga Pietro Benardone dan Dona Pica, ia hidup sebagai anak tukang kain yang kaya. Tetapi Tuhan mengetuk si Francesco untuk bertolak pada kaum kecil bertolak dari keinginan ayahnya untuk menjadikan ia sebagai seorang kesatria perang. Sedikit demi sedikit karya Tuhan nyata padanya, ia membuat murka ayahnya karena Francesco menjual dagangan ayahnya yaitu kain-kain terbaik untuk disumbangkan pada sebuah gereja kecil di daerah San Damiano. Dari situ, singkat cerita Francesco terpanggil dan memutuskan untuk meninggalkan segala ambisi duniawi, Harta kekayaan bahkan nama baiknya dikembalikan kepada keluarganya. Ia memulai karya dengan menyebut diri sebagai saudara Dina dengan beberapa pengikut pertamanya, ia berjalan-jalan di kota, mengemis dan saling berbagi kepada orang-orang miskin dari hasil meminta-minta. Lebih mulia lagi, Francesco tidak jijik kepada kaum kusta, ia membalut luka-luka mereka yang awalnya menjijikkan baginya tetapi berubah menjadi sesuatu manis. Inilah Kasih Tuhan. Hinga pada perjalanan, ia dapat menjinakkan serigala buas, menjadi sahabat Sultan Malik Al Kamil pemimpin perlawanan perang salib di zamannya, ia mendirikan tradisi kandang domba Natal, hingga pada puncaknya, ia menerima tanda Kasih Allah di tubuhnya. Stigmata, luka Kristus menghiasi hidup dan matinya. Bahkan di saat ia melepas kehidupannya, ia masih bisa mengenang sengsara Yesus dan mengangkat saudari maut sebagai saudarinya, jalan menuju hidup kekal.

Saudara-saudara, ke-Fransiskan-an cenderung kita lihat sebagai perjalanan pertobatan dari sekularitas menuju hidup asketik atau hidup religius. Tetapi seperti yang kita lihat, pertobatan Francesco (Fransiskus) tidaklah didapat dengan sesaat. Perlu proses waktu dan perjalanan yang panjang. Menurut P. Dr. Manangar C. Marpaung OFMCap (2008:155), pertobatan merupakan proses psikologis yang naik menuju sesuatu yang baru di dalam hidupnya, yang nyata dalam perasaannya, dalam refleksinya, dan sikapnya sebagai petualang di dunia ini. Terlihat dari sikap Fransiskus yang merindukan menjadi pengantin Putri kemiskinan, menjadi pengemis, menarik diri dari dunia dan foya-foya. Hal yang perlu digarisbawahi adalah sikapnya yang penuh usaha intensif untuk mengenal kehendak Allah dan aksi menjauhkan diri dari dunia dan mengambil jarak dari dirinya sendiri. Bahkan baginya, injil adalah substansi yang hidup (AngBul I).

Konsep dan saran fundamental (hidup fransiskan) berasal dari Injil, yaitu facere poenitentiam (melakukan pertobatan), dalam mengikuti Kristus. Melakukan pertobatan seturut injil ialah sampai pada metanoia atau mengalaminya, perubahan semangat, dalam berpikir dan berkemauan. Perubahan semangat ini dikonkretisir dalam meneladani Kristus, dalam mengikuti Kristus yang ditemukan dalam Injil. Inilah arti pertobatan bagi Fransiskus dan bagi para pengikutnya.

Bagi pengikut Fransiskus, dari dulu hingga sekarang, melakukan pertobatan seturut Injil ditunjukkan dalam meneladani Kristus, menyesuaikan diri dengan-Nya, dan memperbaharui diri. Hal ini dapat dilakukan dengan cara hidup apostolis, dengan melaksanakan dan mengkotbahkan Injil, dan dengan cara lebih konkrit lagi mengkotbahkan pertobatan (penitensi) dan damai. Dengan demikian, benar bahwa Injil adalah Sumber Objektif supernatural kristosentrisme Fransiskan, sementara Sumber subyektifnya ialah corak affektif Fransiskus (LM III, 2).

Imitatio Christi Fransiskus dan para pengikutnya ini meliputi dua bidang; dalam praktek (ekstern) dan dalam batin (intern). Imitasi ekstern yang dapat dilihat dalam biografi Fransiskus ialah nyata dalam praktek hidup yaitu kemiskinan, sedangkan imitasi intern adalah yang kurang nampak secara lahiriah, meskipun yang essensial adalah yang dihidupi dan diajarkan oleh Fransiskus, yaitu penyesuaian diri dengan Kristus hingga mencapai kesatuan dengan Allah melalui Cinta.

Hal yang perlu digarisbawahi tentang kemiskinan adalah kemiskinan dalam hidup Yesus. Kemiskinan yang dihidupi bukan hanya sebagai berkekurangan dari setiap kekayaan duniawi, tetapi juga penyangkalan diri, sebagai kerendahan, sebagai penyangkalan pikiran sendiri, menyangkali segala kebaikan dari diri sendiri dengan atas dasar cinta dan Kasih. Demikian Yesus memilih kemiskinan karena Cinta dari dalam, begitupula Fransiskus dan pengikutnya. Akan terlihat keliru apabila kemiskinan ini hanya dilihat dari sisi lahiriah belaka sebagai yang essensil dari Fransiskus. Oleh karena itu kemiskinan dilihat lebih mendahului baru kemudian Cinta. Dalam korelasinya pada realita, semakin mendalam cinta, maka akan semakin dalam pula kemiskinan. Oleh karena itu cinta merupakan essensi fransiskanisme.

Meneladani Kristus, menyesuaikan diri dengan Kristus, dan membaharui diri dalam Kristus, merupakan tiga aspek essensil spiritualitas Fransiskan. Bagaimana menerapkannya? Pertama adalah sikap kemiskinan, kedua praktek kesalehan kristosentris, dan cinta yang membuat Fransiskus menjadi "alter Kristus".

Semoga ringkasan ini berguna bagi saudara-saudaraku para Fransiskan khususnya Ordo Fransiskan Sekular yang identik dengan dunia dalam praktek spiritualitas fransiskan. Semoga kita dapat menerapkan mandat Bapa Serafik untuk senantiasa hidup dalam kemiskinan, bertobat terus menerus dan selalu mengasihi di saat apapun dan kapanpun. Tuhan memberkati. Pace e bene.

Oleh sdr. Fransesco Agnes Ranubaya, OFS

Sumber:
[1] Marpaung, Manangar C. (2008). Introduksi Spiritualitas Fransiskan. Penerbit Bina Media Perintis, Jakarta. 
[2] Anggaran Dasar diteguhkan dengan Bulla. 
[3] Legenda Maior.

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Pages

Contact Form

Name

Email *

Message *