Pada tanggal 9 Oktober 2016, Ordo Fransiskan Sekular (OFS) Regio Kalimantan Sta. Elisabeth dari Hongaria mengadakan penjenjangan bagi saudari-saudara yang telah memenuhi masa-masa yang telah ditetapkan. Mulai dari aspiran menuju postulan, postulan menuju novis, dan novis menuju kaul kekal. Sebelum melaksanakan kegiatan penjenjangan, terlebih dahulu diadakan rekoleksi, selanjutnya pengakuan dosa dan dilanjutkan dengan misa sekaligus penjenjangan para saudari-saudara OFS di gereja Paroki Sta. Sisilia Sungai Raya Dalam.
Rekoleksi dipimpin oleh dua narasumber yaitu P. Aji Astono OFMCap dan Fr. Rusdy, OFMCap yang memberikan materi mengenai kerahiman ilahi. Pertama-tama saudari-saudara OFS diperkenalkan dengan sebuah lambang kerahiman ilahi oleh Pastor Aji. Berikut penulis kutip inti cuplikan dari slide dalam rekoleksi penjenjangan OFS:
"Maka mari membiarkan diri dicintai oleh Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya.
Ia peduli akan makhluk ciptaan-Nya. Ia hadir dalam segenap sejarah umat Israel. Ketika mereka mengalami perhambaan di Mesir, Allah peduli dan menyelamatkan mereka. Dalam kitab Keluaran (Kel 2,23-25) tertulis: “Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu, sampai kepada Allah. Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka.”
Belas kasih memang tidak dapat berdiam diri terhadap penderitaan orang yang dianiaya, ditindas. Kerahiman akan tergerak oleh teriakan orang yang menderita kekerasan, diperbudak, dibunuh. Boleh jadi kenyataan tindasan membuat kita merasa tertekan, tergoda menutup diri, mengeraskan hati, memandang ke arah lain dan memikirkan hal-hal lain. Allah sebaliknya, Ia malahan peduli dan tidak dapat berdiam diri terhadap situasi ketidakadilan itu. Allah sungguh memperhatikan orang miskin yang berseru kepada-Nya.
Dengan perhatian Allah ini mulailah kisah Musa sebagai orang yang diutus menghadap Firaun, meminta dia melepaskan umat Israel dan mengizinkan mereka berangkat dari Mesir. Musa yang diselamatkan dari sungai Nil, akhirnya memimpin umat melalui laut merah kepada kemerdekaan.
Kita dalam tahun kerahiman ini dapat membuat yang sama, menjadi pengantara belas kasih melalui karya kerahiman. Kita dapat mendekati orang yang tertekan, menciptakan pendamaian, berdamai satu sama lain, mengampuni yang bersalah kepada kita.
Banyak hal baik yang dapat dibuat.
Belas kasih itu selalu bertindak untuk menyelamatkan. Berbeda dari mereka yang bertindak untuk menghancurkan, membunuh, berperang. Tuhan melalui hamba-Nya Musa menghantar umat Israel ke padang gurun, seperti seorang anak, mendidik mereka dalam iman, membuat perjanjian dengan mereka, menciptakan ikatan cinta kasih yang kuat, seperti cinta seorang bapa kepada anaknya, kasih seorang pengantin kepada mempelainya.
Belas kasih Allah amat mendalam. Allah menawarkan hubungan kasih istimewa, eksklusif, khas. Ketika mengadakan perjanjian dan memberikan perintah-Nya kepada Musa, Allah berkata: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.” (Kel 19,5-6).
Allah mempunyai seluruh bumi, namun menjadikan umat Israel bagi-Nya kepunyaan yang lain, khusus, seperti emas dan perak yang disediakan oleh Daud bagi pembangunan bait Allah.
Inilah keagungan belas kasih Allah, yang sampai kepada kepenuhan-Nya dalam Tuhan Yesus, dalam “perjanjian baru dan kekal” yang diikat dalam darah-Nya. Yesus dengan pengampunan-Nya menghancurkan dosa kita dan membuat kita menjadi putra Allah sampai kekal (lh. 1 Yoh 3,1), menjadi permata indah di tangan Allah Bapa yang baik dan berbelas kasih. Kepada kita diberi karunia menjadi putra Allah, mendapat warisan kebaikan dan kerahiman, serta diistimewakan di hadapan orang lain.
Kita menjadi kepunyaan khas bagi Allah, jika menerima belas kasih-Nya, mengikuti perjanjian-Nya dan membiarkan diri diselamatkan oleh-Nya. Belas-kasih Allah membuat manusia menjadi berharga, selaku khazanah pribadi Allah, yang dijaga oleh-Nya dan yang disukai-Nya.
Pantaslah dalam tahun kerahiman ini kita bergiat membuat karya belas kasih, berbagi karunia kebaikan dengan orang lain. Berdamai dengan sesama siapapun dia, mengampuni sesama siapapun dia. Memohonkan Tuhan mengampuni dosa dosa ku. Dan mendoakan siapa saja baik yang masih hidup atau pun yang sudah meninggal agar diampuni oleh Bapa. "
Demikian betapa besar belas kasih Allah kepada kita para umatnya dan demikian pula kita sebagai seorang saudara OFS, harus saling mengasihi dan berbagi karunia belas kasih kepada siapa saja yang kita temui. Selain itu, Pastor Aji juga menjelaskan makna dari lambang-lambang Tahun Yubelium Kerahiman Ilahi. Berikut penjelasan Pastor Aji yang saya rangkung sebagai berikut:
1. BENTUK OVAL KACANG ALMOND (MANDORLA dalam bahasa ITALIA)
Gambar dibuat dalam sebuah lingkaran oval mandorla (kacang almond dalam bahasa Italia)
Bentuk kacang almond juga merepresentasikan penyatuan dua lingkaran yang merupakan symbol KODRAT KRISTUS yaitu ILAHI dan MANUSIA. Dalam mitologi Yunani, kacang almond juga dikaitkan simbol dari kehidupan baru seperti yang dituliskan dalam kitab Bilangan 17:8 ”Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam”
Buah badam ini diterjemahkan dari kata almond di KS versi King James
2. WARNA
Warna MERAH melambangkan darah Kristus, kehidupan dan yang terpenting adalah ALLAH
Warna BIRU melambangkan manusia, satu-satunya mahluk ciptaan-Nya yang mengetahui bagaimana caranya memandang ke langit (surga)
Warna PUTIH memiliki banyak makna, ini adalah warna ROH KUDUS karena mencerminkan kehidupan TRINITAS. Dalam hal ini, Pastor Rupnik menjelaskan juga bahwa KRISTUS adalah PUTIH karena JIWA KRISTUS, ROH KRISTUS yang turun ketempat penantian sementara tubuhnya ”beristirahat”. Kemudian, warna putih juga merupakan cahaya yang menyelamatkan, kehidupan kekal SANG PUTRA.
Pakaian Adam (sosok manusia yang di gendong oleh Yesus, akan dijelaskan selanjutnya) berubah dari warna HIJAU (mewakili sifat manusia) menjadi KUNING KEEMASAN (mewakili sifat KETUHANAN) karena pada kenyataannya Adam (dan kita semua) dapat berperan aktif dalam proses pengilahian, yaitu menjadi (sempurna) seperti Allah melalui Yesus Kristus (lihat Mat 5:48)
3. PITA BAYANGAN BIRU
Warna biru yang berubah semakin gelap kearah dalam seperti berpendar mencerminkan apa yang disebut dengan Apophatic Way of reflecting on God, jalan untuk merenungkan Tuhan.
Terkadang kita lebh mudah menggambarkan TUHAN itu secara sisi manusianya, namun sesungguhnya pikiran kita amat sangat terbatas untuk memahami KEILAHIAN-NYA.
Bentuk biji almond dibelakang gambar utama dibuat lebih gelap, bukan lebih terang ini untuk menggambarkan bahwa tahapan-tahapan kita untuk meningkatkan keimanan menghadap Kristus. Dengan meningkatnya kekudusan, maka untuk menggambarkan kecerahan harus dengan kegelapan. Terang Dunia tidak lagi memiliki makna diluat Kristus, karena Dial ah satu-satunya TERANG DUNIA (Yoh 8:12), CAHAYA YANG BENAR. Dan Cahaya Kristus itu harus bersinar dari JANTUNG MANUSIA. Dalam gambar luar biasa ini, kedalaman warna yang lebih gelap menunjukkan kekebalan kasih Bapa yang mengampuni semua. Di tengah-tengah warna paling gelap, di mana kaki Yesus diposisikan, adalah misteri besar dari Inkarnasi - yang dalam pribadi Yesus, kemanusiaan dan keilahian menjadi satu seperti tertulis ”Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1:14)
Sebaliknya, tiga oval konsentris, dengan warna semakin cerah bergerak ke luar, menunjukkan gerakan Kristus yang membawa manusia keluar dari gelapnya dosa dan maut ke dalam terang kasih dan pengampunan-Nya.
4. LAKI-LAKI DIBAHU YESUS
Logo ini digambarkan Yesus membopong seorang laki-laki bermakna bahwa Yesus adalah GEMBALA YANG BAIK, membawa Adam dipundak-Nya. Yesus menemukan DOMBA YANG HILANG yang digambarkan dalam Injil Lukas 15:5-6 ”Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan”
Logo ini juga merefleksikan tentang perumpamaan orang Samaria yang baik hati, yang menolong sesamanya dijalan karena dirampok. Ketika Yesus menanyakan siapa yang menjadi ”sesama” dari orang yang dirampok itu, mereka menjawab ”orang yang telah menunjukan belas kasihan kepadanya” maka Yesus juga meminta kita melakukan hal yang sama dan melakukan kebaikan atas dasar belas kasihan (Luk 10:36-37)
5. MATA yang MENYATU
Yang paling unik dari logo ini adalah Yesus dan laki-laki yang digendong dibahunya mempunyai mata yang menjadi SATU. Hal ini sama sekali TIDAK ADA HUBUNGANNYA dengan teory MATA KETIGA. Maknanya adalah YESUS MELIHAT DENGAN MATA ADAM dan ADAM MELIHAT DENGAN MATA YESUS. Setiap orang menemukan ADAM YANG BARU dalam KRISTUS yang melihat masa depan dengan tatapan KASIH ALLAH BAPA.
Pastor Rupnik menjelaskan bahwa Allah menatap pada pria sedemikian rupa yang memungkinkan manusia untuk memahaminya; Allah mengkomunikasikan dirinya sedemikian rupa bahwa manusia kemudian mampu melihat. Hanya dalam tatapan Bapa kita bisa benar-benar memahami dan datang untuk berdamai dengan siapapun kita, dengan identitas kita yaitu putra dan putri Allah Bapa!
Sementara itu melalui sisi manusia ilahi Kristus apa yang kita lihat dapat Tuhan lihat juga. Kristus tidak pernah jauh dalam kehidupan kita. Semua yang kita lihat, semua yang kita rasakan, kebahagiaan dan kesengsaraan kita…Dia ada, menemani kita, melihat bersama kita, Dia meyakinkan kita bahwa Dia sungguh tahu apa yang sedang kita lalui. Kristus melihat dengan mata kita sehingga kita dapat melihat dengan-Nya. Dia tinggal dalam hidup kita, terasa dengan indera kita dan melihat dengan mata kita bahwa setiap dari kita mungkin menemukan panggilan sejati kemanusiaan kita sendiri didalam Kristus. Sehingga layaklah kita sanggup berkata ”namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Gal 2:20)
Kita semua dipanggil untuk memandang realitas dengan tatapan yang sama dengan Kristus. Dalam setiap situasi kehidupan kita, kita dipanggil untuk menemukan, mendengarkan dan memenuhi kehendak Bapa, terutama bagi mereka yang paling membutuhkan.
6. KEDEKATAN ADAM dan YESUS
Penjelasan dari Pastor Rupnik tentang kedekatan wajah Adam dan Yesus cukup menarik. Saat Yesus menghembuskan nafas terakhir di kayu salib, laki-laki itu justru menerima hembusan nafas Tuhan dan mulai bernafas bersama-sama.
Adam menerima nafas kehidupan pada saat penciptaan, dalam baptisan kita, kita menerima nafas baru kehidupan, bahwa Roh Kristus, yang kita dapat memulai hidup baru kita di dalam Kristus.
Selanjutnya setiap saudari-saudara melaksanakan perenungan dengan menyesali dosa masing-masing dan mengakuinya di hadapan imam dan Allah. Empat Pastor turut hadir untuk memberikan penitensi dalam melayani sakramen tobat saudari-saudara OFS. Satu per satu masuk ke dalam pintu pengakuan dan keluar dengan wajah yang penuh kelegaan. Hal dilakukan agar setiap anggota OFS terus melaksanakan pertobatan tanpa henti sehingga setiap perilaku yang boleh jadi dianggap sebagai dosa entah disengaja maupun tidak, jangan menghalangi kasih Allah untuk hadir di dalam hidupnya. Melainkan karena dosa itulah, setiap orang mendapatkan rahmat pengampunan paling besar dari Allah.
Usai pengakuan dosa, tibalah saatnya misa. Beberapa saudari-saudara yang akan melakukan penjenjangan duduk di bangku yang telah disediakan, sesuai dengan jenjang mereka masing-masing. Misa sendiri dipimpin oleh P. Aji Astono OFMCap dan P. Johny OFMCap. Pertama-tama, misa berjalan sebagaimana biasanya, dibuka dengan tanda kemenangan, hingga homili selesai dibagikan kepada para umat. Satu per satu saudari-saudara dipanggil ke depan untuk mengucapkan janji sesuai dengan jenjangnya saat ini. Mulai dari penjenjangan aspiran, postulan, novis hingga berkaul kekal. Terdapat beberapa lambang yang ada di sana, yang pertama adalah kalung tao sebagai lambang penjenjangan menuju postulan di mana saudari akan siap untuk dibina lebih lanjut ke dalam persaudaraan OFS. Kemudian, ada pula buku Anggaran Dasar Ordo Fransiskan Sekular yang dibagikan kepada para novis baru; yang menjadi lambang bahwa saudari-saudara novis telah resmi bergabung ke dalam OFS untuk semakin memperdalam cara hidup yang diberikan Sto. Fransiskus dari Assisi melalui Anggaran Dasar dan Cara hidup Fransiskan. Dan lambang selanjutnya adalah Kitab Suci / Alkitab, yang melambangkan bahwa saudara yang berkaul kekal akan sepenuhnya melakukan kehendak Kristus dengan menjadi alter Kristus selanjutnya dengan pegangan Injil yang akan dihidupinya selama-lamanya. Dan lilin menjadi lambang penerangan, Roh Keberanian yang menerangi jiwa setiap saudari-saudara untuk menjadi terang dunia bagi sesamanya di manapun mereka berada. Rasa syukur disempurnakan dengan menerimakan sakramen ekaristi, lambang tubuh dan darah Kristus penebus dosa umat manusia.
Menjadi seorang OFS bukanlah hal yang terlalu sulit apabila kita sungguh mau membiarkan Tuhan menyatakan kasih-Nya ke dalam hidup kita. Yang menghalangi kita menjadi seorang pelayan adalah rasa kurang berkenan, perasaan kurang layak dan kurang pantas. Tetapi sesungguhnya, hal demikian bukanlah cermin seorang pelayan dalam menanggapi sikap kerendahhatian. Karena kerendahhatian akan menerima segala tugas dan dengan tulus melaksanannya dengan penuh tanggung jawab. Semoga setiap hari semakin banyak saudara OFS yang bergabung untuk menghidupi injil Kristus sesuai dengan teladan Sto. Fransiskus dari Assisi. Pace e Bene! (Sdr. Fransesco Agnes Ranubaya,OFS)
No comments:
Post a Comment