BAKSOS DAN AKSI PANGGILAN KEFFRAP DI KAMPUNG BANYING, PAROKI PAHAUMAN - ORDO FRANSISKAN SEKULAR

ORDO FRANSISKAN SEKULAR

OFS - Ordo Fransiskan Sekuler - Ordo Ketiga Fransiskan

ORDO FRANSISKAN SEKULAR REGIO KALIMANTAN

test banner

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sunday, July 17, 2016

BAKSOS DAN AKSI PANGGILAN KEFFRAP DI KAMPUNG BANYING, PAROKI PAHAUMAN

Keluarga Fransiskan Fransiskanes Pontianak (KEFFRAP) mengadakan baksos di Paroki Pahauman tepatnya di kampung Banying. Baksos dan Aksi Panggilan kali ini merupakan agenda lanjutan dari KEFFRAP di tahun yang ke enam. Sebelumnya, KEFFRAP telah melaksanakan kegiatan baksos dan aksi panggilan di daerah-daerah wilayah keuskupan. Mulai dari paroki-paroki yang berada di kota Pontianak, selanjutnya bertolak lebih dalam ke kampung-kampung. Daerah yang pernah dijelajahi oleh KEFFRAP antara lain Jagoi Babang yang merupakan daerah perbatasan, desa Jelimpo Kabupaten Landak, desa Raba di Menjalin dan kampung Banying di paroki Pahauman. 

Kampung Banying sendiri merupakan bagian dari stasi paroki Pahauman yang memiliki wilayah geografis yang luas. Kampung Banying terdiri dari 4 dusun dengan luas wilayah 628,99 m2. Penduduk kampung Banying diperkirakan berjumlah sekitar tiga ribu jiwa. Dilihat dari jumlah penduduk berdasarkan pemeluk agama, kampung Banying merupakan daerah dengan jumlah penganut agama Katolik sebanyak 2.263 jiwa (88%), sisanya  beragama Kristen Protestan sebanyak 323 (10%) dan Islam sebanyak 48 jiwa (2%). Dengan kata lain, umat Katolik di Kampung Banying terbilang sebagai mayoritas apabila dibandingkan dengan penganut agama lainnya. Selain itu, kampung Banying sendiri terdapat 8 buah kapel yang tersebar di stasi-stasi wilayah kampung Banying. Salah satu gereja di kampung Banying menjadi lokasi kegiatan baksos dan aksi panggilan yang dilaksanakan oleh KEFFRAP yaitu Gereja Santa Bernadeth Banying.

Jauh beberapa bulan lalu, kegiatan bakti sosial dan aksi panggilan KEFFRAP telah direncanakan oleh para saudara - saudari Fransiskan Pontianak yang ditunjuk sebagai panita perencanaan dan pelaksanaan. Di bawah kordinasi ketua KEFFRAP, Pastor Taddeus OFMCap kegiatan baksos di tahun ke enam dibuka kembali. Donasi demi donasi terus menerus digalakkan agar fokus dari kegiatan baksos tersebut tepat pada sasarannya. Bantuan demi bantuan terus mengalir dari para donatur, bermula dari iuran wajib dari setiap tarekat atau kongregasi Fransiskan yang berdomisili di Pontianak hingga sumbangan materil dari berbagai sumber yang boleh disalurkan melalui KEFFRAP. Sumbangan-sumbangan tersebut antara lain beras, minyak goreng, gula, garam, kopi, indomie, ikan asin, dan barang sembako lainnya. Selain itu terdapat pula sumbangan berupa pakaian dan celana yang masih layak dipakai. Semua item-item tersebut dikumpulkan melalui biara SFIC yang berada di Jalan A.R. Hakim yang berada tidak jauh dari Katedral. Di tempat ini jugalah para saudara-saudari KEFFRAP akan stand by dan berangkat bersama-sama menuju lokasi baksos dan aksi panggilan. 

Tarekat atau kongregasi yang hadir kali ini berjumlah lima tarekat. Mereka adalah imam, bruder, dan frater kapusin, suster SFIC, suster SMFA, suster KFS, dan Fransiskan Awam ( OFS ). Dua tarekat lainnya yaitu Bruder MTB dan suster SFD tidak dapat hadir oleh karena pelayanan saudara-saudari tersebut adalah bidang pendidikan, sedangkan hari pelaksanaan baksos tersebut berbenturan dengan masuknya siswa-siswi ke sekolah setelah hari libur kenaikan kelas. Sekitar pukul delapan para saudara – saudari berkumpul sesuai dengan waktu perencanaan yang telah ditetapkan. Biara SFIC selaku tuan rumah menyambut utusan Keluarga Fransiskan Fransiskanes Pontianak dengan penuh keramahan. Sesuai rencana KEFFRAP menggunakan empat jenis mobil yaitu mobil L300 dari RR Sto. Fransiskus Asisi Tirta Ria yang dikendarai oleh Saudara Hera, mobil avanza oleh pastor Taddeus OFMCap, mobil pick-up yang membawa logistik dikendarai oleh saudara Sartono dan mobil minibus milik suster SFIC dikendari oleh saudara Longginus. Baksos kali ini, KEFFRAP membawa dua orang sahabat spesial yang akan membantu dalam pembimbingan tata cara berkebun. Pak Suroto bersama Saudara Sartono bersedia untuk ikut serta membawa logistik serta membimbing umat Banying untuk menata kebun secara baik dan benar. Meskipun kedua sahabat ini beragama Islam, tetapi keduanya begitu moderat sehingga cocok dalam berbagai situasi bahkan penulis sendiri telah mengenal mereka dengan baik. Tanaman hias yang berasal dari kebun bunga Pak Suroto juga diangkut guna dijadikan percontohan yang akan digunakan pada saat baksos nanti. Ketika semua barang-barang seperti logistik, bahan makanan dan pakaian, sembako, perlengkapan pribadi telah disiapkan, maka team KEFFRAP segera meluncur dari Pontianak menuju Paroki Pahauman. 

Singkat cerita keberangkatan team dilakukan dengan beberapa jalur dan juga perhentian untuk beristirahat.. Pertama, perjalanan team dilakukan dengan memotong jalur melalui kapal penyeberangan yang berada di dekat Kantor Walikota Pontianak. Melalui jalan Siantan, kami melaju hingga mencapai pemberhentian di Sungai Pinyuh untuk beristirahat sejenak. Setelah itu, team berhenti di Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjungan untuk santap siang. Sambil menikmati indahnya alam sekitar, semua menyantap makanan yang telah dihidangkan dengan penuh sukacita. Usai mengisi tenaga dengan santapan jasmani, team melanjutkan perjalanan menuju Paroki Pahauman. Tepatnya di Pastoran, kami beristirahat kembali untuk meneruskan perjalanan sekitar satu jam menuju kampung Banying. Sebelumnya satu orang saudara, frater Andat OFMCap menyusul rombongan KEFFRAP dengan menggunakan angkutan umum menuju Pahauman untuk bersama-sama berangkat dari paroki menuju kampung Banying. Sekitar satu jam kemudian, rombongan tiba di kampung Banying dan disambut umat dengan tari-tarian oleh anak-anak PIA di Banying. 
Sore menjelang malamnya, team bergegas menuju penginapan yang telah disediakan panitia dari kampung Banying. Usai meletakkan tas dan beban yang dibawa, penulis dan rekan lainnya bergegas mandi oleh karena pada malam harinya, team KEFFRAP akan mengadakan misa pembukaan kegiatan baksos dan aksi panggilan di Banying. Kami memilih sangah (sungai) sebagai tempat untuk membasuh diri. Sesuai dengan pikiran kami, sungai tersebut cukup bersih untuk menyegarkan diri setelah hampir seharian berhadapan dengan hawa panas selama perjalanan tadi. Kami nyaris terlena oleh kesegaran air sungai yang mengubah gerah seharian. Cukup puas berendam, berenang dan membersihkan badan, kami kembali ke penginapan untuk berpakaian. Misa dibuka oleh Pastor Taddeus OFMCap bersama imam muda kapusin yaitu Pastor Deddy OFMCap. Pastor Deddy tiba di Banying sekitar pukul enam sore bersama tiga orang OMK. Umat yang mengikuti misa begitu senang dan gembira melihat kedatangan rombongan para imam, frater, bruder dan suster Fransiskan. Kali ini, misa di gereja St. Bernadeth Banying begitu spesial dan penulis dapat melihat antusiasme umat Bpanying selama mengikuti perayaan. Suster Maria Luciana KFS menjadi kordinator liturgi sehingga tata perayaan misa dapat berjalan dengan baik mulai dari persiapan hingga pelaksanaan misa. 

Usai perayaan Ekaristi, penulis dipercaya menjadi master of ceremony untuk membuka kegiatan baksos dan aksi panggilan di Banying. Mula-mula penulis memperkenalkan diri, kemudian memperkenalkan KEFFRAP serta tarekat yang ikut serta dalam kegiatan baksos, hingga memberikan kesempatan beberapa pihak terkait untuk memberikan kata sambutan. Pertama – tama kata sambutan dari dewan wilayah sekaligus sebagai ketua panitia baksos dan aksi panggilan di Banying. Panitia sangat senang dengan kehadiran KEFFRAP yg akan melaksanakan karya bakti dan amal di kampung Banying, secara garis besar panitia berharap agar kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Selanjutnya, kata sambutan diberikan oleh Pastor Paroki. Namun, karena Pastor Oktavianus OFMCap berhalangan, maka beliau diwakili oleh salah satu pengurus umat di paroki Pahauman. Selanjutnya, kesempatan diberikan kepada Pastor Taddeus OFMCap selaku ketua dari KEFFRAP. Pastor Tadde menjelaskan kembali tujuan dari pelaksanaan baksos dan aksi panggilan, bagaimana teknis pembimbingan spritualitas dan kreativitas, pengolahan barang bekas menjadi barang bernilai tinggi, pembimbingan pertanian, tata kebun hingga rekoleksi bagi kaum muda dan pembimbingan PIA serta pembinanya. Pastor juga memperkenalkan para saudara meskipun tidak secara men-detail karena di hari ketiga akan diadakan perkenalan yang lebih mendalam. Kemudian kata sambutan dari kepala Desa Banying yang menjelaskan keadaan kampung Banying. Beliau juga menghimbau team KEFFRAP agar pelaksanaan baksos dipusatkan di Banying. Tidak hanya itu, kepala desa juga menghimbau umat di daerah sekitar Banying untuk mendukung kegiatan tersebut. Hal senada diungkapkan ketua umat Kampung Banying agar umat saling mendukung sehingga berjalannya kegiatan baksos lebih kondusif dan terkendali. Penulis kemudian menutup perjumpaan malam tersebut dan mengarahkan para panitia untuk briefing mengenai teknis kegiatan esok harinya seraya menyantap makan malam hingga beristirahat memulihkan tenaga. Untuk konsumsi para team, Suster Vincent SFIC selaku kordinator konsumsi bersama ibu-ibu juru masak menjadi penanggung jawab makanan dan minuman panitia, umat dan peserta kegiatan baksos mulai pertama hingga akhir kegiatan berlangsung.

Hari kedua tiba, team pendampingan anak-anak PIA, pendampingan para wanita untuk pengolahan barang bekas maupun dekorasi, pendampingan tata kebun dan pembekalan pendamping PIA segera bergegas pada setiap unit. Team pendampingan anak-anak PIA dikoodinasikan oleh Suster Serliana Sigiro SFIC. Team pendampingan para wanita untuk pengolahan barang bekas dikordinasikan oleh Sdri. Kamila Mimi OFS. Team pembekalan pendamping PIA dikordinasikan oleh Sr. Felicia SMFA. Team pendampingan wanita untuk dekorasi altar dikordinasikan oleh Sr. Syeba SFIC. Team pendampingan tata kebun dikordinasi oleh Bapak Suroto bersama teamnya. Penulis juga merangkap sebagai kordinator team untuk olahraga dan rekreasi pada sore hari setelah segala kegiatan hari kedua selesai dilaksanakan. Semua saling bekerja sama dan berusaha menjalankan tugas pelayanan dengan penuh tanggung jawab di setiap unit yang telah ditunjuk. Malam harinya, para saudara melakukan kunjungan ke rumah umat-umat dengan menggali informasi terlebih dahulu dari panitia dan ketua umat. Kordinator kunjungan umat sendiri diserahkan kepada Sdr. Herman Yoseph Anem OFS bersama team.

Hari ketiga, team rekoleksi OMK, team pendampingan umat bidang pertanian, dan team aksi panggilan bersiap pada tanggung jawab di unit yang telah ditentukan. Salah satu team pertanian didatangkan dari kampung Raba, Menjalin yang telah berhasil menerapkan praktik pertanian yang dibina oleh Bruder Babtis MTB. Kordinator untuk unit pertanian adalah Saudara Irenius Gedo Gamma OFS dibantu oleh bapak David dan team pertanian. Pastor Taddeus OFMCap sendiri menjadi kordinator untuk pembinaan pengurus umat bersama teamnya yaitu Sdr. Herman Yoseph Anem OFS dan Pak Asai; seorang katekis yang tidak lain merupakan ayahanda dari Pastor Taddeus yang ikut bekerja sama membantu KEFFRAP memberikan katekese untuk pengurus umat. Pada hari ketiga ini, penulis kembali merangkap sebagai kordinator rekoleksi OMK sekaligus pemberi materi “Bahaya Narkoba bagi Generasi Muda” yang terdiri dari siswa SMP, SMA dan OMK sendiri. Team rekoleksi OMK dibantu oleh Frater Andat OFMCap selaku moderator sekaligus animator dan Sr. Trifina SMFA untuk materi “Panggilan Hidup”. Bruder Sebastian OFMCap dan Suster Serliana Sigiro SFIC turut ambil bagian dalam sesi sharing dan motivasi kepada para OMK. Seluruh anggota KEFFRAP pada malam aksi panggilan berperan aktif saat memperkenalkan dirinya serta tarekatnya. Di dalam sesi inilah, perwakilan tarekat memberikan informasi kepada umat di Banying mengenai Fransiskan dan mengenal tarekat serta cara untuk ambil bagian dalam panggilan sebagai seorang imam, bruder, suster maupun awam religius. Perkenalan setiap tarekat memakan waktu cukup panjang, namun antusias umat tidaklah pudar. Umat Banying mengikuti acara malam aksi panggilan hingga akhir. Team KEFFRAP boleh bersukaria bersama umat dengan bernyanyi bersama, menari beramai-ramai, berkondan ria dan bergembira. 

Secara garis besar kegiatan baksos di tahun ke enam yang diadakan di kampung Banying Pahauman terbilang sukses. Panitia baik dari KEFFRAP dan umat telah bekerja keras bersama-sama sehingga kegiatan dapat berjalan dengan baik. Antusiasme umat begitu besar sehingga dapat mengikuti dengan baik kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan mulai dari hari pertama hingga akhir. Pendampingan wanita dan pria baik untuk kreativitas, mental dan spiritual memberikan angin segar terhadap pola pikir umat yang selama ini lebih monoton. Wawasan umat menjadi lebih terbuka dan tergugah untuk mengembangkan pola kreasi yang telah diberikan. Pembimbingan kaum muda dan anak-anak sekiranya memberikan semangat baru untuk bangkit berkembang, lebih menghargai hidup, menghargai sesama sehingga harapan untuk terpanggil sebagai imam, suster, frater, bruder dan awam religius dapat tumbuh subur. Selama menggali informasi saat kunjungan umat, penulis menyimpulkan bahwa ketersinggungan pribadi, kerasnya hati, diskriminasi, perbedaan pendapat di kalangan umat menjadi penghalang bersatunya ikatan persaudaraan antarumat Katolik di Banying. Akan tetapi, setelah melalui kunjungan team KEFFRAP, tumbuh sebuah pandangan baru yang telah menggugah umat untuk bangkit kembali bersama membangun kampung dan gereja di Banying. Alhasil, pada misa penutupan baksos dan aksi panggilan, umat seketika meramaikan gereja. Bahkan beberapa umat harus duduk di luar karena massa bertambah banyak dari biasanya. Di akhir misa, saudara-saudari KEFFRAP membagikan cenderamata berupa rosario yang telah diberkati kepada umat di Banying sebagai kenang-kenangan. Sdr Herman Yoseph Anem OFS juga memberikan pelayanan penyembuhan prana bagi umat yang mengalami sakit baik secara fisik maupun psikis. Para team KEFFRAP bersuka cita dan pulang dengan membawa damai yang telah dibagikan kepada umat di Banying. Demikianlah KEFFRAP sebagai duta-duta perdamaian melaksanakan tugas pelayanan di kampung Banying Paroki Pahauman. sebagaimana suri teladan dari Bapa Serafik Santo Fransiskus dari Asisi yang menjadikan dirinya sebagai pembawa damai. (Sdr. Fransesco Agnes Ranubaya OFS)

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages